Senin, 26 Desember 2011

PENGARUH INTELEGENSI DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI AKADEMIK

PENGARUH INTELEGENSI DAN MOTIVASI BELAJAR
TERHADAP PRESTASI AKADEMIK
Ma’rifatin Azizah
E-mail: marifatonazizah@yahoo.co.id
ABSTRAK:
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan           potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Belajar adalah istilah kunci (key term) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Pencapaian individu dari proses belajar disebut dengan prestasi akademik. Individu yang mempunyai prestasi akademik yang tinggi akan mampu bersaing dalam berbagai bidang. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademik seseorang. Salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi prestasi akademik seseorang adalah intelegensi dan motivasi belajar.

       Kata Kunci: Intelegensi, Motivasi Belajar, Prestasi akademik
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Belajar adalah istilah kunci (key term) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Belajar juga memainkan peranan penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) ditengah-tengah persaingan yang ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang terlebih dahulu maju karena belajar (Syah, 2006).
Menghadapi era globalisasi sekarang ini, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia.Peningkatan ini terlebih dahulu dapat dilakukan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional pada umumnya dan peningkatan prestasi akademik siswa pada khususnya.
Prestasi akademik menurut Bloom (dalam Azwar, 2002) adalah mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Menurut Azwar (2004) secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal meliputi antara lain faktor fisik dan faktor psikologis. Faktor fisik berhubungan dengan kondisi fisik umum seperti penglihatan dan pendengaran. Faktor psikologismenyangkut faktor-faktor non fisik, seperti minat, motivasi, bakat, intelegensi,sikap dan kesehatan mental. Faktor eksternal meliputi faktor fisik dan factor sosial. Faktor fisik menyangkut kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran dan kondisi lingkungan belajar. Faktor sosial menyangkut dukungan sosial dan pengaruh budaya.
Dalam dunia pendidikan formal, pentingnya pengukuran prestasi akademik tidaklah dapat disangsikan lagi. Sebagaimana diketahui, proses pendidikan formal adalah suatu proses yang kompleks yang memerlukan waktu, dana dan usaha serta kerjasama berbagai pihak. Berbagai aspek dan faktor terlibat dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Tidak ada pendidikan yang secara sendirinya berhasil mencapai tujuan yang digariskan tanpa interaksi berbagai faktor pendukung yang ada dalam sistem pendidikan tersebut. Betapa jelasnya pun suatu tujuan pendidikan telah digariskan, tanpa usaha pengukuran maka akan mustahil hasilnya dapat diketahui. Tidaklah layak untuk menyatakan adanya suatu kemajuan atau keberhasilan program pendidikan tanpa memberikan bukti peningkatan atau pencapaian yang diperoleh. Bukti
peningkatan atau pencapaian inilah yang harus diambil dari pengukuran prestasi
secara terencana.
Intelegensi menurut Azwar (2004) merupakan salah satu factor internal yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang. Intelegensi sendiri dalam perspektif psikologi memiliki arti yang beraneka ragam. Salah satu yang paling pokok yaitu menurut Chaplin (dalam Syah, 2006) adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat dan efektif atau kemampuan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Begitu banyak definisi tentang intelegensi yang dikemukakan oleh para ahli. Definisi intelegensi itumengalami berbagai perubahan dari waktu ke waktu, tetapi sejak dahulu tidak pernah mengurangi penekanan pada aspek kognitifnya.
Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat intelegensi adalah menerjemahkan hasil tes intelegensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma. Secara tradisional, angka normatif dari hasil tes intelegensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence quotient (IQ). (Azwar, 2004) Intelegensi sebagai unsur kognitif dianggap memegang peranan yang cukup penting. Bahkan kadang-kadang timbul anggapan yang menempatkan intelegensi dalam peranan yang melebihi proporsi yang sebenarnya. Sebagian orang bahkan menganggap bahwa hasil tes intelegensi yang tinggi merupakan jaminan kesuksesan dalam belajar sehingga bila terjadi kasus kegagalan belajar pada anak yang memiliki IQ tinggi akan menimbulkan reaksi berlebihan berupa kehilangan kepercayaan pada institusi yang menggagalkan anak tersebut atau kehilangan kepercayaan pada pihak yang telah memberi diagnosa IQ-nya.
Sejalan dengan itu, tidak kurang berbahayanya adalah anggapan bahwa hasil tes IQ yang rendah merupakan vonis akhir bahwa individu yang bersangkutan tidak mungkin dapat mencapai prestasi yang baik. Menurut Azwar (2004) hal ini tidak saja merendahkan self-esteem (harga diri) seseorang akan tetapi dapat menghancurkan pula motivasinya untuk belajar yang justru menjadi awal dari segala kegagalan yang tidak seharusnya terjadi.
Menurut Slameto (1995) seringkali anak didik yang tergolong cerdas tampak bodoh karena tidak memiliki motivasi untuk mencapai prestasi sebaik mungkin. Hal ini menunjukkan seorang anak didik yang cerdas, apabila memiliki motivasi belajar yang rendah maka dia tidak akan mencapai prestasi akademik yang baik. Sebaliknya, seorang anak didik yang kurang cerdas, tetapi memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, maka dia akan mencapai prestasi akademik yang baik.
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang ingin dikaji dalam  penelitian ini adalah apakah ada pengaruh tingkat intelegensi dan motivasi belajar terhadap prestasi akademik
Pengertian Prestasi Akademik
Djamarah (2002) mendefinisikan prestasi akademik adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil akhir dari aktivitas belajar. Sedangkan definisi prestasi akademik menurut Azwar (2002) adalah bukti peningkatan atau pencapaian yang diperoleh seorang siswa sebagai pernyataan ada tidaknya kemajuan atau keberhasilan dalam program pendidikan.
Selanjutnya menurut Suryabrata (2006) prestasi akademik adalah hasil belajar terakhir yang dicapai oleh siswa dalam jangka waktu tertentu, yang mana di sekolah prestasi akademik siswa biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu. Kemudian dengan angka atau simbol tersebut, orang lain atau siswa sendiri akan dapat mengetahui sejauhmana prestasi akademik yang telah dicapai. Dengan demikian, prestasi akademik di sekolah merupakan bentuk lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai siswa, dan rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut.
Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik adalah hasil atau pencapaian yang diperoleh siswa dari aktivitas belajar, yang dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu
Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik antara lain:
a. Faktor internal
1)    Faktor jasmaniah (fisiologi), yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh.
2)Faktor psikologis, terdiri atas: Faktor intelektif yang meliputi:
a)    Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat.
b)    Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.
c)  Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap,       kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri
      3) Faktor kematangan fisik maupun psikis.
      4) Faktor lingkungan spiritual atau keamanan
b. Faktor eksternal
1)Faktor sosial yang terdiri atas:
a)    Lingkungan keluarga
b)    Lingkungan sekolah
c)    Lingkungan masyarakat
d)    Lingkungan kelompok
2)Faktor budaya seperti adat istiadat,ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian.
3)Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim.
Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini akan meneliti pengaruh faktor-faktor intelegensi atau kecerdasan dan motivasi terhadap prestasi akademik pada siswa
Pengertian prestasi atau keberhasilan belajar dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikatorindikator berupa nilai rapor, indeks prestasi studi, angka kelulusan, predikat keberhasilan, dan semacamnya (Azwar, 2004).
Intelegensi
Definisi intelegensi menurut Reber (1985) adalah kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Sedangkan  intelegensi menurut David Wechsler (dalam Azwar, 2004) adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional serta menghadapi lingkungannya dengan efektif. Menurut
faktor yang mempengaruhi kemampuan intelektual individu, yaitu:
a. Keturunan
Studi korelasi nilai-nilai tes intelegensi diantara anak dan orang tua, atau dengan kakek-neneknya, menunjukkan adanya pengaruh faktor keturunan terhadap tingkat kemampuan mental seseorang sampai pada tingkat tertentu.
b. Latar belakang sosial ekonomi
Pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua dan faktor-faktor social ekonomi lainnya, berkorelasi positif dan cukup tinggi dengan taraf kecerdasan individu mulai usia 3 tahun sampai dengan remaja.
c. Lingkungan hidup
Lingkungan yang kurang baik akan nmenghasilkan kemampuan intelektual yang kurang baik pula. Lingkungan yang di nilai paling buruk bagi perkembangan intelegensi adalah panti-panti asuhan serta institusi lainnya, terutama bila anak ditempatkan disana sejak awal kehidupannya.
d. Kondisi fisik
Keadaan gizi yang kurang baik, kesehatan yang buruk, perkembangan fisik yang lambat, menyebabkan tingkat kemampuan mental yang rendah.
e. Iklim emosi
Iklim emosi dimana individu dibesarkan mempengaruhi perkembangan mental individu yang
bersangkutan.
Teori Intelegensi
Azwar (2004) menguraikan secara ringkas mengenai teori-teori intelegensi, antara lain:
a. Alfred Binet
Alfred Binet termasuk salah satu ahli psikologi yang mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum.
Menurut Binet, intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Binet menggambarkan intelegensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat perkembangan individu berdasar suatu criteria tertentu. Jadi untuk melihat apakah seseorang cukup intelegen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya itu apabila perlu. Inilah yang dimaksud dengan komponen arah, adaptasi dan kritik dalam definisi intelegensi
intelegensi terdiri dari faktor yang jamak (multiple factors), mencakup tujuh kemampuan mental utama (primary mental abilities), yaitu:
1)    Pemahaman verbal (verbal comprehension) Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes kosakata, termasuk sinonim dan lawan kata, dan testes kemampuan menyimak bacaan.
2)    Kecepatan verbal (verbal fluency) Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes yang menuntut menghasilkan kata-kata secara cepat dan tepat, misalnya dalam waktu yang singkat mampu menghasilkan sebanyak mungkin kata yang berawal dengan huruf d.
3)    Bilangan (number) Kemampuan ini biasanya diukur melalui pemecahan masalahmasalah aritmatika. Dalam tes ini sangat ditekankan tidak hanya masalah-masalah perhitungan dan pemikiran, tetapi juga penguasaan atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya
4)    Visualisasi spasial (spatial visualization) Kemampuan ini biasanya diukur dengan tes-tes yang menuntut manipulasi mental atas simbolsimbol atau bangun-bangun geometris.
5)    Ingatan (memory) Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes mengingat kembali kata-kata atau kalimat yang dihafal dari gambar-gambar yang disertai keterangan gambar (katakata)
6)    Pemikiran (reasoning) Kemampuan ini biasanya diukur melalui te-tes analogi-analogi (misalnya: pengacara, klien, dokter, ..., dan lain-lain), atau rangkaian huruf atau angka untuk diselesaikan (2, 4, 7, 11, ..., ..., ..., ...)
7)    Kecepatan persepsi (perceptual speed) Kemampuan ini biasanya diukur melalui tes-tes yang menuntut pengenalan simbol secara cepat, misalnya kecepatan menyilang atau memberi tanda pada huruf f yang terdapat dalam deretan  huruf-huruf
b. Raymond Bernard Cattell Dalam teorinya mengenai organisasi mental, Cattell mengklasifikasikan kemampuan menjadi dua macam, yaitu:
1)    Intelegensi Fluid (gf), yang merupakan faktor bawaan biologis. Sangat penting artinya untuk melakukan tugas yang menuntut kemampuan adaptasi pada situasisituasi baru. Intelegensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 atau 15 tahun.
2)    Intelegensi Crystallized (gc), yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan dan kebudayaan dalam diri seseorang atau dengan kata lain merupakan endapan pengalaman yang terjadi sewaktu intelegensi fluid bercampur dengan pengalaman. Intelegensi crystallized ini akan meningkat kadarnya seiring dengan meningkatnya pengalaman dan masih terus dapat berkembang sampai usia 30 sampai 40 tahun.

Motivasi Belajar
Secara etimologi motifasi artinya dorongan, kehendak, alas an atau kemauan. Motifasi adalah tenaga-tenaga (forcer) yang membangkitkandan mengarahkan kelakuan individu.Motifasi tidak dapat diamati secara langsung akan tetapi dapat diinteprestasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku yang tertentu.
Berawal dari kata motif  itu maka motifasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak.

Pengertian Motivasi Menurut Para Ahli
Motif  merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu. Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat).
Menurut :Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) mengemukakan bahwa motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
Mitchell (dalam Winardi, 2002) mengemukakan bahwa motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.
Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.

Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses interaksi diri yang melibatkan fisik, psikis dan lingkungan untuk mencapai tujuan , yaitu adanya perubahan yang bersifat progressif (maju) dalam ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (perilaku).



Prinsip-prinsip Motivasi Belajar
Prinsip-prinsiop motivasi belajar:
1.    Proses internal yang mengaktifkan, memadu dan mempertahankan prilaku dari waktu ke waktu.
2.    Dapat ditingkatkan dengan penekanan tujuan-tujuan belajar dan pemberdayaan antribusi.
3.    Dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat siswa.
4.    Dapat meningkat pada diri siswa apabila guru memberikan ganjaran yang memiliki kontigen (keterkaitan), spesifik dan dapat dipercaya.

Jenis-jenis Motivasi
Dalam pelaksanaan motivasi kita harus mengetahui jenis-jenis motivasi agar dapat diterapkan model motivasi mana yang cocok diterapkan. Jenis-jenis motivasi ada 2 yaitu motivasi positif dan motivasi negatif.
1)    Motivasi positif adalah proses untuk mencoba mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang kita inginkan dengan cara memberikan kemungkinan untuk mendapatkan hadiah.
2)    Motivasi negatif adalah proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau melakukan sesuatu yang kita inginkan tetapi teknik dasar yang digunakan adalah lewat kekuatan ketakutan.
Motivasi positif efektif untuk jangka panjang, sedangkan motivasi negatif untuk jangka pendek saja. Secara umum motivasi dibagi menjadi 2 yaitu :
1.    Motivasi Intrinsik
Menurut Sobry Sutikno (2007) mengartikan motivasi intrinsik sebagai motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Motivasi ini terjadi dalam diri seseorang tanpa memerlukan rangsangan dari luar.
2.    Motivasi Ekstrinsik
Menurut Sobry Sutikno berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian seseorang mau melakukan sesuatu.
Motivasi seperti ini perlu diterapkan oleh sekolah karena dalam interaksi belajar mengajar siswa kadang sering tidak menaruh minat dan perhatian terhadap suatu kegiatan yang sedang berlangsung. Oleh sebab itu di dalam kegiatan interaksi belajar, guru dalam hal ini memegang peranan sangat penting dalam upaya menumbuhkan serta meningkatkan motivasi ekstrinsik siswa secara menyeluruh. Dengan demikian siswa akan lebih aktif berperan serta berpartisipasi positif di dalam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.
Mengingat motivasi ekstrinsik ini terjadi karena rangsangan dan pengaruh dari luar diri siswa. Maka guru selayaknya untuk selalu memanfaatkan media dan model pembelajaran yang bervariasi dalam kegiatan belajar mengajar.
Dengan demikian jelas siswa akan lebih tumbuh serta berkembang dalam upayanya mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa dibarengi usaha guru yang keras, maka kegiatan belajar mengajar hanya berlangsung jika guru selalu tatap muka, selebihnya siswa akan selalu bersikap pasif.

Fakor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Ada tiga faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang yaitu:
1.    Kebutuhan
Apabila seseorang mempunyai kebutuhan yang mendesak maka motivasinya akan meningkat, misalnya ; ada orang yang sangat lapar karena tidak makan selama tiga hari – tiga malam (lapar merupakan kebutuhan biologis) maka dia akan makan dengan sangat lahap, dari pada orang yang perutnya kenyang. Hal ini menggambarkan tentang motivasi makan.
2.    Dorongan
Dorongan juga sangat mempengaruhi motivasi. Dorongan ini biasanya berupa reward (penghargaan) dan punishment (hukuman). Misalnya seorang anak yang takut diberi hukuman bila tidak mengerjakan PR oleh gurunya, maka dia akan memaksakan diri untuk mengerjakan meskipun dia tidak bisa. Begitupun juga, misalnya seorang guru yang bernama “X” berjanji akan membelikan Honda Jazz bagi yang mengerjakan PR. Jangankan murid dikelasnya, murid dikelas lain, atau bahkan murid disekolah-sekolah lainnya akan berebutan mengerjakan PR yang diberikan oleh guru “X” tadi.
3.    Tujuan.
Faktor terakhir yang mempengaruhi motivasi adalah tujuan. Tujuan, cita-cita, dan visi seseorang sangat mempengaruhi motivasi. Seseorang yang memiliki tujuan dan bercita-cita, mereka akan belajar dengan giat, mencoba aktif di dalam kelas dan mengukir prestasi sebanyaknya.

Faktor-faktor Yang Memepengaruhi Membedakan Motivasi Belajar Seseorang Dengan Yang Lainnya
Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar pada diri masing-masing orang, di antaranya:
1)    Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat seksual
2)    Perbedaan rasa aman (safety needs), baik secara mental, fisik, dan intelektual
3)    Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya
4)    Perbedaan harga diri (self esteem needs). Contohnya prestise memiliki mobil atau rumah mewah, jabatan, dan lain-lain.
5)    Perbedaan aktualisasi diri (self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Proses Motivasi
Proses motivasi adalah suatu proses dimana tenaga sebagai tenaga atau kebutuhan dari murid di arahkan kepada obyek-obyek dalam lingkungan sekitarnya.
1.    Peran penting motivasi dalam belajar :
a.    Menentukan hal-hal yang dijadikan penguat belajar.
b.    Memperjelas tujuan yang hendak dicapai.
c.    Menentukan ketekunan belajar. Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar, motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan dan hanya dapat dipecah berkat bantuan hal-hal yang pernah dia lalui.
2.    Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar.
Hal ini erat kaitannya dengan pemaknaan belajar. Anak akan tertarik belajar sesuatujika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnyabagi anak.
3.    Motivasi menentukan ketekunan belajar.
Bentuk-bentuk motivasi dalam sekolah : memberi nilai, hadiah, persaingan sehat, hasrat untuk belajar, keterlibatan diri dalam tugas, sering memberikan ulangan, memberitahukan hasil,kerja sama, tugas yang menantang, pujian, teguran dan kecaman, hukuman, taraf aspirasi, minat, penciptaan suasana yang menyenangkan, tujuan yang disukai dalam petunjuk-petunjuk singkat.
4.    Kebutuhan tampak dalam prilaku.
Beberapa indikasi tentang berbagai macam perilaku murid-murid diantaranya:
a.    Bagaimana siswa-=siswi memandang dunia di sekitarnya ?
b.    Bagaimana siswa-siswi tersebut bereaksi terhadap guru, pelajaran dan kawan-kawannya?
5.    Teori kebutuhan.
a)    Kebutuhan fisiologis
b)    Kebutuhan rasa aman
c)    Kebutuhan mempertahankan diri
d)    Kebutuhan cinta
e)    Kebutuhan harga diri
f)    Kebutuahn mengembangakan diri. 
g)    Kebutuhan aktualisasi diri
Pengaruh Tingkat Intelegensi Dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi akademik Siswa
Prestasi akademik menurut Suryabrata (2006) adalah hasil belajar terakhir yang dicapai oleh siswa dalam jangka waktu tertentu, yang mana disekolah prestasi akademik siswa biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu. Kemudian dengan angka atau simbol tersebut, orang lain atau siswa sendiri akan dapat mengetahui sejauhmana prestasi akademik yang telah dicapai. Dengan demikian, prestasi akademik disekolah merupakan bentuk lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai siswa, dan rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut.
    Seseorang tidak dapat memiliki prestasi akademik begitu saja tanpa ada hal yang mendorongnya untuk menunjukkan hasil belajar yang memuaskan. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, Azwar (2004) secara umum menjelaskan ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang, yaitu faktor internal dan factor eksternal. Faktor internal meliputi antara lain faktor fisik dan faktor psikologis. Faktor fisik berhubungan dengan kondisi fisik umum seperti penglihatan dan pendengaran. Faktor psikologis menyangkut faktor-faktor non fisik, seperti minat, motivasi, bakat, intelegensi, sikap dan kesehatan mental. Faktor eksternal meliputi faktor fisik dan factor sosial. Faktor fisik menyangkut kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran dan kondisi lingkungan belajar. Faktor social menyangkut dukungan sosial dan pengaruh budaya.
    Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang adalah tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ). Menurut Syah (2006) tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, dan sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. Hal yang sama juga diungkap oleh Ekowati (2006) yang menyatakan bahwa terdapat kontribusi positif antara intelegensi (kecerdasan) terhadap hasil belajar siswa. David Wechsler (dalam Azwar, 2004) mendefinisikan intelegensi adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional serta menghadapi lingkungannya dengan efektif, dari definisi tersebut nampak adanya pengaruh yang signifikan antara intelegensi terhadap prestasi akademik.
    Salah satu faktor lain yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang adalah motivasi belajarnya. Dari berbagai hasil penelitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi akademik seseorang. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi akademik seorang anak didik. Hal ini juga didukung oleh penelitian Purnomowati (2006) yang memperoleh thitung untuk variabel motivasi belajar sebesar 4,951 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti bahwa variable motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi akademik siswa. Definisi motivasi belajar menurut Djamarah (2002) adalah suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang menimbulkan proses belajar individu yang berinteraksi langsung dengan objek belajar. Dari penjelasan tersebut, Nampak pula adanya pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar seseorang terhadap prestasi akademik seseorang, oleh sebab itu maka upaya peningkatan prestasi akademik seseorang tidak bias lepas dari upaya peningkatan motivasi belajarnya.

PENUTUP
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam dirimaupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan danmemberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki olehsubjek belajar itu dapat tercapai.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkanmotivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:

1.    Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar

2.    Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran.

3.    Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman atau kemampuan yang telahdimiliki oleh siswa.

4.    Mengembangkan cita-cita atau aspirasi siswa




DAFATAR RUJUKAN
Purwanto, N. (1990). Psikologi pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Reber, A.S. (1985). The penguin dictionary of psychological. Harmondsworth Middlesex England: Penguin Books Ltd.
Sardiman, A.M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar mengajar.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Slameto. (1995). Belajar dan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Suryabrata, S. (2006). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Syah, M. (2006). Psikologi belajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Uno, H.B. (2007). Teori motivasi dan pengukurannya: Analisis dibidang pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Wlodkowski, R.J., & Jaynes, J.H. (2004). Motivasi belajar. Jakarta: Cerdas Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar